Violet Evergarden Chapter 9 (Bahasa Indonesia)


Chapter 9: Boneka Kenangan Otomatis dan Pengantin Pria


Bulan pagi terlihat di langit yang biru. Bentuk redupnya tak dapat menggapai mereka yang berada dibawah sinar bulan malam hari. Akan tetapi, seperti bulan penuh, bulan dengan warna yang lebih lembut melebur kedalam langit memiliki sebuah pesona yang dapat membuat waktu terhenti dan membuat orang orang merenungkan hal tersebut. Dicampurkan dengan puisi dari padang rumput luas dan bunga bunga kecil yang tersebar sejauh mata memandang, semuanya tampak seperti sebuah ilustrasi dari cerita dongeng yang biasa ada di buku.

“Ibu”

Ditengah pemandangan yang seindah surga tersebut, tanpa memukul aura pada sang bulan, seorang pemuda berlari dengan cepat. Dalam keterburuannya itu, ia hanya memakai sebuah celana dan kaos.
 
Wilayah yang disebut dengan nama Eucalypt Basin memiliki banyak tempat yang tidak dikembangkan, dengan jarak dari kota ke kota dan desa ke desa atau bisa dibilang sekitar setengah hari. Kendaraan umum hanya lewat sekali dalam sehari, dan bila terlewat maka para penduduk dan para pengunjung tak memiliki pilihan lain selain berjalan kaki. Mencari seseorang dalam dunia yang penuh dengan ladang sawah tersebut terlihat mudah dikarenakan dengan jalannya yang tidak memiliki banyak halangan, nyatanya hal tersebut tidak mudah untuk dilakukan.

“Ibu”  

Luasnya daerah pencariannya itu adalah halangan utama dalam mengejar seseorang. Melakukan pencarian yang memakan waktu yang sangat lama. Sangat sulit untuk mengejar seseorang bahkan bila orang itu tidak bergerak sedikitpun dari tempat dimana keduanya dapat melihat satu sama lain.

“Sial, kenapa jadi begini sih?” pemuda itu kehabisan kesabaran selagi mengusap keringat yang mengalir dari keningnya dengan lengan kaos yang ia kenakan.

Kakinya sudah berlari kesana kemari di ladang itu sampai akhirnya berjalan dengan pelan dan berhenti. Mungkin dia tidak memiliki waktu untuk memakai sepatunya, dia tak beralaskan kaki.Kaki pria itu berdarah, mungkin karena ia menginjak beberapa ranting atau kerikil. Apakah orang yang ia cari cari daritadi itu cukup penting sampai ia harus mendapati luka seperti itu? Pemuda itu sendiri berlari sambil mencermati hal tersebut.

Dengan penuh kedengkian pertanyaan yang mengelilingi dirinya dan tanpa sebuah jawaban yang tepat untuk itu, ia berlari kembali. Bunga bunga putih yang ia injak bewarnakan merah darah. Sakit pada kakinya itu membuat pikirannya kosong.

“Ibu…panggil namaku”

Haruskah ia kembali saja? Mengabaikan orang yang ia cari?
“Namaku…..”

Bila dia memilih untuk tidak kembali maka sederhananya pasti ia akan lanjut untuk mencarinya. Dalam situasi itu, kebimbangan adalah faktor yang membuat waktu terbuang. Setidaknya,mungkin ia dapat menemukan sebuah petunjuk dibalik ladang yang luasnya tak terbatas itu.

“Ah”

Sebuah pita merah tiba tiba terbang menuju dirinya. Pita merah itu terbang ke dunia berwarna hijau, biru dan putih. Mengikuti insting nya pemuda itu menjulurkan tangannya kepada pita merah tersebut. Telapak tangannya dengan perlahan mencapai benda yang terlihat seperti hadiah dari surga.
Pemuda itu melihat kepada arah angin berhembus. Ia dapat melihat bayangan hitam.Terlihat beberapa orang mengelilingi sebuah sepeda motor. Salah satu dari mereka menuju kepada pemuda itu. Dan saat sudah cukup dekat ia mulai menyadari bahwa itu adalah perempuan. Terlebih lagi, ia memiliki kecantikan yang sangat menawan. Rambut keemasannya yang tertiup angin, melayang diantara  kelopak bunga, dia berhenti didepan pemuda itu dan melihat pemuda itu dengan tatapan yang tajam.

“Hum…”

Mata birunya menunjukkan sebuah pesona misterius dan membuat pemuda itu merasa aneh.

“Senang berkenalan denganmu. Saya segera menuju kemanapun yang diinginkan klien saya. Saya adalah Boneka Kenangan Otomatis, Violet Evergarden” bagaikan sebuah boneka, ia membungkuk dengan anggun. Seperti halnya penampilan yang ia miliki, ia mengeluarkan suara dari bibir merahnya yang menawan, namun apa yang ia katakan sangat tidak sesuai dengan tempat dimana ia berada sekarang.

Pemuda itu sendiri bukan pelanggan nya dan merupakan orang asing yang kebetulan berada didekatnya. Tak lama ia berkata “Maaf , aku minta maaf. Ini adalah sebuah penyakit pekerjaan ; saya kebiasaan mengatakan kalimat perkenalan seperti itu kepada siapapun yang baru aku temui untuk pertama kalinya…..”, mungkin ia berpikiran sama dengan pemuda itu dan mengatakan hal tersebut.

“Oh tidak apa.hmm…. namaku Silene. Apakah ini milikmu?”

Setelah dia mengangguk, Silene memberinya pita tersebut. Silene terkejut akan betapa gemetaran dirinya saat jari mereka bersentuhan. Meski ditutupi dengan sarung tangan, jarinya terasa kaku dan jelas bukan merupakan jari manusia.

“Ini pitanya. Ngomong ngomong, aku ingin bertanya sesuatu. Aku sedang mencari seseorang….”

“Apakah itu wanita berambut rambut perak yang berumur 60 tahun yang ahli dalam menata rambut?”

“Y-Ya. Ibuku dulu bekerja sebagai penata rambut….bagaimana kau bisa tau….?”

Gadis itu menahan rambutnya, yang terurai oleh angin karena tidak diikat, dan menunjuk tempat awal sebelum ia berjalan kemari. Meski sangat sulit terlihat karena jarak mereka yang jauh, ia melihat bayangan pendek yang Silene pikir mungkin adalah ibunya.

“Kami juga sedang mencarimu.”

Apapun yang ia lakukan, gadis itu cukup cantik untuk dilukis. Pikir Silene.

Orang orang yang telah menjaga ibunya Silene adalah boneka automatis dan seorang tukang pos yang sedang dalam perjalanan. Sepertinya mereka sedang berdiri ditempat dikarenakan motornya rusak, dan dia melihat ibu Silene berjalan jalan diantara padang rumput.

“Dia berkata bahwa dia sedang menuju pegunungan untuk mencari suaminya dan anaknya. Cukup aneh bagi seseorang untuk berjalan kesana kemari menjelang pagi bukan? Kami sudah memiliki masalah, tapi saat seseorang melihat orang lain yang bahkan lebih bermasalah, mereka biasanya tetap tenang melihat hal itu (mengabaikannya). V.” sementara meraba raba motornya yang rusak pria itu mengulurkan tangan ke gadis muda itu.

“Namaku bukan “V” namaku “Violet” Sambil menyisir rambut kebelakang kupingnya, ia berjongkok. Mengambil alat dari tas yang berada di jalan, ia memberinya kepada pria itu.

Mengabaikan perkataannya ia mulai bekerja kembali “Lihat rambut V. Dia bilang rambutnya terlihat cantik dan memintaku untuk menyentuhnya, jadi kami membiarkannya seperti itu. Selagi aku terjebak disini. V menghibur nenek itu dan kau pun muncul.”

“Ibuku….sedikit bermasalah….maaf bila kami menganggu”

“Yah nampaknya begitu….orang orang seperti itu tidak langka. Mudah menjadi pikun seperti itu. Kau bahkan tidak perlu setua itu untuk menunggunya terjadi… ah tidak bekerja. Ambilkan aku sapu tangan.” Sambil mengelap noda oli hitam, ia berdiri. Dia terlihat sedikit lebih tinggi dari Violet.Rambut pirangnya yang tipis terlihat seperti pasir.Rambutnya yang pendek, terlihat lebih panjang satu sisi. Bola mata yang berwarna biru langit sejuknya memiliki duri diantara kelembutannya.

Hanya dengan melihat lekukan badannya, terlihat bahwa dia memakai celana ketat. Sebaliknya, pakaian atasannya adalah kaos, ia memakai baju hijau musim semi yang longgar dengan tali selempang. Heel dari sepatu botnya terlihat terlalu tinggi. Cara berpakaiannya itu tidak biasa. Akan tetapi, Bahkan jika dia melepaskan semua itu, dia memiliki tampang seseorang yang mirip dengan wanita.

“Ahhh….ini sangat buruk. Dari semua hal kenapa aku harus terjebak di tengah pedesaan yang penuh padang rerumputan….” Dia terlihat lelah.

“Benedict, aku harus menuju ke kota sebelumnya dan meminta bantuan. Lebih baik kembali daripada melanjutkan”

“Hum,kalau begitu…”

Tanpa mendengar perkataan Silene, Benedict membersut pada perkataan Violet. ”Bahkan bila kau memiliki sebuah kekuatan yang luar biasa sekalipun, aku tidak mungkin membiarkan seorang gadis sepertimu melakukan hal itu sendirian. Bahkan bila itu memang lebih dekat bagimu, tetap saja jaraknya sangat jauh. Dan juga aku mungkin akan dimarahi oleh pria tua itu bila kau melakukannya”

Violet memiringkan kepalanya dan berkata “Benarkah? Benedict, kau jelas jelas kelelahan dengan tugas pengiriman pesanmu itu dan mendapatkan tugas tambahan untuk membawaku bersamamu, jadi untuk situasi ini, bukankah lebih baik bagiku untuk menyisihkan sedikit tenagaku untuk kesana? Pria atau Wanita itu tidak penting. Ini adalah keputusan untuk bertahan hidup”

“Seperti yang kubilang tadi….”

“Tidak, aku sudah tau akan bagaimana nanti.Pria tua itu akan seperti ‘Benedict….kenapa kau membuat Violet melakukan hal seperti ini? Kau membuatnya berlari sejauh ini?’ dan kemudian dia akan memberitau perilaku pria yang baik dan benar”

Orang yang ditirukan Benedict dengan penuh emosi adalah seseorang yang mirip dengan jelmaan bos perusahaan pengiriman pesan.

“Kau pasti akan menjawab apapun saat ditanya bukan? Kau tidak bisa berbohong”

“Aku tidak bisa berbohong pada pimpinan. Hanya ada kebenaran dalam laporanku”

“Kalau begitu itu tidak bagus bukan?”

“Aku akan memberitau yang sebenarnya tapi aku akan memberitau nya bahwa aku sendiri yang memutuskan untuk melakukan ini”

“Coveran mu itu sangat bagus bila mengenai tembak menembak tapi kalau ini tentang kehidupan sehari hari itu takkan membuahkan hasil apapun, jadi berhentilah”

“Hum!”  dengan teguran Silene mereka berdua akhirnya melihat kearahnya.

Mungkin dia telah lelah berjalan, dengan ibunya yang sedang tidur dalam gendongannya. Violet membawa jari telunjuknya ke bibirnya.

Silene tersenyum pahit. ”Bila kalian memang sedang kesusahan, maka aku akan membawa kalian kalian menuju desaku sebagai tanda terima kasihku karena telah menjaga ibuku. Bisakah kau mendorong motormu? Bila kau bisa , mungkin ini akan memakan sedikit waktu tapi aku akan membawamu ke seseorang yang mungkin bisa memperbaikinya”

“Kau mau melakukannya?”

Silene mengangguk. “Desaku kini sedang sedikit ramai, jadi mungkin akan memakan waktu… Bila kau ingin menetap disana untuk sehari, kami bisa melakukan itu. Kami juga menerima tamu. Sebagai tambahan, sebenarnya akan ada sebuah pernikahan. Dan setiap ada pernikahan maka seluruh penduduk desa berkumpul untuk membuka perjamuan. Kami menyambut siapapun. Dan ini merupakan waktu terbaik untuk memberi hiburan kepada tamu seperti kalian”

“Apa kau punya minuman?”

“Tentunya”

“Apa ada juga wanita penari dan makanan enak? Oh dan juga sebuah tempat menginap”

“Yah untuk penarinya….itu semua tergantung padamu tapi, sisanya kami sudah bisa menyiapkannya”

Setelah mengepalkan tangan dan memuja Surga, Benedict menghadap ke Violet dan menjulurkan kedua tangannya. Violet terpaku saat melihatnya.

“Kau melakukannya seperti ini dan begini.” Benedict dengan penuh gairah mengenggam tangan violet dan mengangkat tangannya keatas. “Kita berhasil!”

“Kita berhasil?”

“Kau tak perlu sebegitunya” Benedict tertawa dan berkata “Ini adalah sebuah takdir. Mungkin aku tak tau mereka siapa, tapi mari kita bergabung untuk pasangan berbahagia ini”

Silene tertawa pada perkataan Benedict. Selagi menoleh kepada ibunya yang sedang berada di punggungnya, senyumnya langsung menghilang, namun ia memaksakan dirinya untuk menjawab dengan suara yang gembira,”Yah , aku juga merupakan keluarga dari pasangan itu”

Tempat yang dituntun oleh Silene itu merupakan desa yang bernama Kisara. Rumah rumahnya sudah dibuat mirip dengan bentuk setengah lingkaran. Pada bagian tengahnya terdapat balai desa dengan pavilyun batu dan sebuah sumur. Biasanya, hanya ada itu di tengah kota namun sekarang ada banyak dari orang orang berkumpul disana. Disitu, hampir seluruh wanita yang ada di desa berkumpul. Mereka dengan bersemangat memasak dan menghiasi balai desa. Violet dengan Benedict melihat bahwa itu agak tidak biasa. Benedict pun bertanya dimanakah para pria berada, dia kemudian menunjuk sebuah tenda yang terletak agak terpisah dari desa. Tenda tenda yang berbaris itu bersinar dengan luar biasa dibawah langit yang biru dan tanah hijau. Tampaknya itu merupakan tempat yang disediakan untuk para tamu yang datang. Dari yang terlihat, mereka benar benar bermaksud untuk menyambut orang orang yang datang lewat tanpa menolak siapapun.

Untuk beberapa saat, kelompok itu menuju kepada rumah Silene. Jalan yang ada di desa sangat sempit dan dipenuhi berbagai hal – bunga bunga bermekaran disepanjang tong kayu yang diletakkan didepan pintu, tanaman panen kering, dan kucing kucing menyelip diantara kaki mereka. Diantaranya, suara bel berbunyi. Silene menjelaskan bagaimana beberapa lonceng yang menghasilkan suara dengan bertabrakan satu sama lain saat ditiup angin dibuat khusus oleh para pengrajin desa.

Melihat keatas dari situ mereka dapat melihat bahwa ada tali melewati rumah yang ada,’sepanjang jendela yang ada di jalan, dari tempat dimana orang orang menjemur cucian mereka’, darinya ada juga lonceng yang menggantung. Gadis muda yang sedang berbicara satu sama lain menarik tali itu sambil bersenang senang. Selagi mereka melakukan hal itu, bel itu serempak berbunyi. Saat benedict melihat mereka, mereka mengeluarkan tawa mirip teriakan dan mereka langsung menutup jendela.

Desa itu memiliki ketentraman yang tidak dimiliki kota besar, dengan ciri ciri dari sebuah komunitas yang kecil.

Setelah mereka melewati jalan sempit itu, jalanan itu meluas dan didepan mereka terlihat sebuah rumah terpencil yang lebih besar dari rumah lainnya. Meski tidak begitu bagus, semak mawar tumbuh di kebunnya. Dua wanita tampak cemas berdiri di depan pintu masuk.

“Aah, jadi dia baik baik saja!?” Orang yang berlari menuju dirinya merupakan wanita paruh baya yang memakai gaun apron.

Setelah mengesah panjang, Silene berbicara kepadanya dengan suara pelan,”Apa ini baik baik saja? Jangan bilang bahwa ini selalu terjadi….”

“Kemarin malam, aku sudah mengunci ruangan nyonya. Tuan, apakah kau masuk kedalam setelah aku menguncinya? Apakah kau menguncinya kembali?.”

“Ah itu….”

“Untuk beberapa tahun yang sudah kupercayakan pada tuan, aku belum pernah mencari nyonya sampai seperti ini”

“Ok itu kesalahanku….”

Angin yang berhembus diantara mereka dapat dibilang tidaklah ramah.

Wanita lainnya berjalan kesamping dari Silene.Dia memiliki kulit yang berwarna coklat dan wajah yang ramah. Dia menundukkan kepala  ke Violet dan Benedict, yang tak mampu berkata kata dan hanya melihat mereka. Silene pun baru sadar bahwa ada orang yang bukan merupakan kenalannya yang berada didekatnya.

“Ahh maaf…perkenalkan. Ini adalah….emm…wanita yang akan menikahiku besok, Misha dan ini adalah pembantu dari ibuku, Delit. Aku tidak tinggal bersama ibuku. Misha dan Delit adalah orang yang merawatnya.”

Mereka paham bahwa pernyataan terakhir itu dimaksudkan untuk menunjukkan rasa syukur kepada dua orang tersebut. Baik Delit maupun Misha mengizinkan mereka berdua untuk masuk kedalam rumah dan melayani mereka seakan mereka merupakan orang suci. Mereka sedang sibuk. Pengantin wanita dan pengantin pria, yang akan menikah keesokan harinya, harus keluar dari rumah untuk memberi beberapa sapaan pada banyak tempat. Mereka minta maaf karena tidak dapat mendampingi tamu mereka seperti seharusnya, Violet dan Benedict sendiri terlihat cukup puas hanya dengan memiliki sebuah tempat untuk beristirahat dan membiarkan mereka berdua pergi tanpa terlalu memikirkannya.

Selagi hari mulai menjelang siang, Delit menyajikan makanan untuk mereka tanpa mempertimbangkan apapun. Mungkin karena mereka sudah kelelahan, Benedict langsung tidur setelah makan, seakan akan baterai yang ada didalam dirinya habis. Awalnya, dia mengangguk ngantuk dan setelah itu karena tidak tahan karena kelelahan ia langsung berbaring di sofa dan menutup kedua matanya. Pekerjaan seorang tukang pos meliputi tugas pengiriman yang memakan satu hari penuh. Belum lagi, dia juga harus menjemput Violet selagi dalam perjalanan dan motornya rusak, dia sudah mengkhawatirkan akan perbaikan motornya itu sebelum akhirnya benar benar kelelahan.

Duduk di tempat yang sama Violet membiarkannya tidur disebelahnya selagi dia bersandar didekatnya, semuanya menjadi sangat hening dan dia pun mengamati sekitarnya. Ada beberapa bel di jendela rumah itu. Bel itu bergemerincing. Suara dari Delit yang sedang mencuci piring terdengar dari dapur. Dan bersamaan dengan napas tidurnya Benedict, siang hari yang sangat damai itu berlanjut.

Meski tak mengantuk, Violet menutup kedua matanya. Dia merasakan sebuah ketenangan dari musik kehidupan sehari hari yang dimainkan disekitarnya untuk pertama kali. Rumah itu, merupakan sebuah tempat yang sangat luas bahkan bila dibandingkan dengan rumah yang ada di desa rasanya hal tersebut sangatlah berbeda jauh, hanya bila rumah rumah lainnya digabungkan barulah besarnya mansion itu dapat disamakan. Dan juga, sedikit aneh baginya untuk berada di sebuah rumah yang mana ia dapat menetap tanpa melakukan pekerjaan apapun. Akan tetapi, segera setelah dia mendengar dentuman yang berasal dari pintu depan rumah itu, dia langsung memegang pistol yang berada pada jaketnya.

“Wah, wah apakah itu orang yang akan memperbaiki motor tadi?” Delit pun berjalan ke pintu itu.

Dari sisinya, Violet dapat tau bahwa Benedict membuka matanya sedikit. Dan juga dia meletakkan tangannya pada pistolnya.”Semua baik baik saja, tidurlah” Benedict pun menutup matanya dengan perasaan lega.

Kedua dari mereka terlihat sangat mirip. Karena warna rambut dan iris mata mereka yang hampir sama, mereka bagaikan saudara saat berdampingan.

Penasaran apakah ada yang bisa dilakukannya untuk membantu, Violet berjalan menuju pintu depan, namun ketika sadar suara itu hanyalah sebuah keseharian biasa langkahnya terhenti. Dia mendengar sesuatu dari lantai dua. Ia pun teringat bahwa ibu Silene dibawa kesana setelah mereka sampai di rumah itu. Melangkahkan kakinya ke tangga menuju lantai dua, Violet berdiri di koridor lantai dua dan berdiri di tempat untuk mendengar sekitarnya.

“Sayang….?” Suara dari wanita tua itu kembali berbunyi. “Apa itu Jonah?”.Nampaknya ia mengira bahwa Violet adalah anggota keluarga rumah itu.

“Ahh ini aku Violet. Kau mengikat rambutku tadi pagi” selagi menjawab pertanyaan tadi Violet berbisik ke pintu ruangan itu.

Ini merupakan desa yang kecil, belum lagi perjamuan besar akan mengumpulkan semuanya. Satu persatu mereka menundukkan kepala untuk berterima kasih kepada semua orang. Saat itu matahari sudah terbenam dan Silene dan Misha telah pulang ke rumah.

“Wah, pengantinmu bukan berasal dari sini?”

“Dia mengerti bahasa kita .Meski dia kesulitan dalam berbicara .Itu sedikit lucu”

“Silene, perlakukan dia dengan baik. Dia hanya bisa bergantung padamu bukan?”

Perkataan itu tidak membuatnya terganggu, tapi sebelum itu, dia ditanyai oleh wanita yang lebih tua darinya tentang tunangannya, Misha. Selagi Silene dan berbicara dengannya disebelah Misha yang terlihat kesulitan berbicara, tenggorokannya menjadi kering.

“Ah hari mulai gelap…” gumamnya dengan singkat dan Silene mengangguk.

Desa itu biasanya tenang saat hari terbenam, tapi hari ini sedikit ribut. Semua orang sedang bersemangat untuk hari esok. Saat dia berpikir bahwa semua itu ditujukan untuk dirinya dan Misha, Silene mulai mengerti bahwa pernikahan mereka tidak hanya untuk dua orang. Dia pun memegang tangan Misha dengan lembut.

“fufu” tawanya dengan malu.”Orang orang yang ada di desa ini sangat ramah” Mungkin karena merasa nyaman saat berduaan dengan Silene, ia mulai berbicara.”Saudaraku, yang sudah menjagaku selama berada di rumah orang tua kami, meninggal dunia setelah “Perang Besar”. Aku sangat lega karena bisa menikahimu. Aku bisa mendapat….keluarga kembali.” Dia tersenyum malu. “Nona Delit sangat bagus dalam memasak. Dia telah mengajarkanku masakan apa yang kau suka. Dan rumah ibu sangat besar. Terlihat megah dan membuatku berpikir…. semua orang dapat tinggal didalamnya.

Meskipun itu merupakan pembicaraan yang damai, Silene malah berkata dingin,”Kau tak perlu begitu berhati hati.”

Misha berhenti berjalan. Tangannya, masih memegang Silene,  dan ditarik kedepan selagi Silene melanjutkan untuk berjalan, dan membuatnya tersandung. “Aku minta maaf.”

“Ahh tidak aku juga minta maaf.”

“Ahh tidak seharusnya aku yang minta maaf ….aku mengatakan seseuatu yang….tidak perlu….meski aku tau bahwa kau meninggalkan rumah itu karena kau membencinya dan ibumu.”

Apa yang membuat Silene terpikat dengan Misha adalah itu. Dia sangat jujur,peduli dan baik hati.

“Tapi, aku belum bertanya mengapa kau begitu membenci itu. Lebih baik untuk menyayangi orangtua mu”

Dan dia punya pendirian.

Keringat terasa pada tangan yang memegangnya. Silene ingin melepaskan tangannya dan mengelap keringat itu namun ia tidak melakukannya, dia  memegang tangannya lebih erat. Dia tidak ingin untuk menghasut rasa jijik kepada orang yang akan selalu bersama kepada dirinya untuk kedepannya nanti.

“Tidak ada yang dapat melewati ibu”

Tak seperti Silene yang tidak menatapnya, Misha melihat menatap tepat kepadanya ”Ya”

“Hal ini sudah seperti itu semenjak aku masih kecil. Dia tidak seperti itu karena umurnya. Aku juga memliki seorang ayah, dan…kakak…namun suatu hari, ayahku pergi dengan kakakku.”

“Kenapa?”

“Aku masih sangat kecil pada saat itu jadi aku tidak begitu ingat. Mungkin seperti biasanya…hubungan mereka setelah menikah sangat buruk. Mereka….cukup sering bertengkar. Aku juga sering melihat mereka berdua pergi keluar rumah. Karena itulah aku berpikir bahwa dia akan kembali juga untuk pada saat itu…”

Namun ia tak pernah kembali

--Kenapa pada saat itu ayah membawa kakak dan bukannya diriku?

Apakah karena ia lebih tua dariku? Perbedaan umur mereka hanya 3 tahun, dan juga dia selalu merasa bahwa ayahnya lebih mengutamakan kakaknya dalam segala hal. Misalnya, saat memberi hadiah, keseringan dalam mengusap kepala mereka, atau perbedaan kata saat memuji mereka. Untuk orang lain mungkin hal itu bukanlah masalah besar, namun untuk anak anak hal itu sangatlah berpengaruh.

--Aku yakin…dia membawa yang dianggapnya lebih akrab. Kurasa begitu.

“Setelah ayah pergi, ibu mulai menjadi aneh. Sedikit demi sedikit…dia hancur, seperti baut yang jatuh dari sebuah mesin. Pertama dia memanggilku dengan nama kakakku. Kapanpun aku ingin berkata bahwa aku bukanlah Jonah melainkan Silene, dia selalu minta maaf dan menyadari kesalahannya. Tapi, bukan hanya salah memanggil namaku.”

MIsha meletakkan tangan sebelahnya ke tangan yang bergandengan dengan tangan Silene. Dia bermaksud untuk meluapkan hubungan buruk yang dimiliki pasangannya dalam menjalani hidup, itu merupakan sebuah ekspresi yang sederhana, hal itu membuat Silene puas tak tertahankan. Dia mampu untuk memastikan kembali bahwa hal tersebut adalah hal yang ia dambakan.

“Ibu mulai berhalusinasi bahwa aku adalah Ayah atau Jonah”

Masa lalunya tak memiliki kesenangan itu.

“Saat ia berpikir bahwa aku adalah ayah, dia mengomeliku selagi menangis dan memukuliku. Saat dia berpikir bahwa aku Jonah, dia memelukku dan bertanya darimanakah aku tadi. Hal ini terus menerus berlanjut selama bertahun tahun.”

Silene tidak berpikir bahwa dirinya menyedihkan.

“Tapi, saat aku mulai bertambah tinggi. Aku sebenarnya tidak mirip Jonah ataupun Ayah. Aku berpikir bahwa hal itu adalah hal yang baik.”

Namun, dia tidak berpikir bahwa dirinya bahagia. Mengingat kembali masa kecilnya, tidak ada satu hal pun yang membuatnya senang. Dia mulai bekerja karena ibunya tidak mampu bekerja, dan hal itu terasa tidak senang setiap kali ia pulang ke rumah.

“Aku bebas dari halusinasi itu”

Hal itu merupakan keberhasilan….

“Namun sebuah kutukan baru mengenaiku”

Keberhasilan yang menyedihkan….

“Sekarang akulah yang tidak tau siapa diriku”

“Ibu juga tidak tau siapa aku. Dia hanya ingat diriku yang masih kecil. Delit memberi tau kepadaku…bahwa dia selalu mencariku setiap malam. Bukankah itu….sedikit lucu? Aku selalu, selalu, selalu….”

Karena dia merupakan keluarganya, dia harus berpisah darinya.

“selalu di sisinya….”

Meskipun hal itu dapat dianggap sebagai hal yang kejam, itu adalah hal terakhir yang ingin Silene usahakan. Semua penduduk desa tau semua itu, tapi ini pertama kalinya dia membicarakan hal ini kepada orang luar. Dia telah tumbuh dewasa, belajar untuk bekerja, dan pergi ke dunia luar, jatuh cinta pada wanita yang ia temui di dunia itu dan pada akhirnya terbebas dari kesedihannya. Dia tidak ingin siapapun menganggu hal itu.

“Karena itulah aku tidak ingin hidup bersama ibu.”

Silene berputus asa untuk membawa kebahagiaan yang akhirnya ia dapatkan dengan tangannya sendiri.

Dan saat mereka pulang ke rumah, Delit datang menyambut mereka dari luar dengan berkata ”Aku sudah menunggu kalian” Sambil memegang beberapa surat di tangannya. Mereka membawa masalah besar dengan ketidakhadiran dari Silene dan Misha. Sebuah telegram dari teman jauh dan saudara yang mungkin tak mampu menghadiri pernikahan itu.

Kota dimana Silene dan Delit tinggal sedikit jauh dari desa. Dia sebenarnya ingin menggelar pernikahan disana dan meninggalkan ibunya, namun Misha menolak hal tersebut.

“Bila kau memiliki orang tua, kau setidaknya harus menunjukkan padanya.” Untuk alasan itu, mereka yang harusnya datang sekarang tidak datang.

“Apa yang harus kita lakukan…berdasarkan peraturan pernikahan?” Silene (pura pura) malu dan  bertanya kepada Delit.

“Yah, setidaknya mereka harus dibacakan. Apa kau belum meminta satu orang pun untuk melakukan itu?” Silene melihat Misha. Pasangan itu belum diajar oleh orang tua merekatentang situasi di mana mereka harus mengajukan permintaan dan tidak terbiasa dengan protokol pernikahan.

“Kita dalam masalah…jika itu harus dari seseorang dari sini…mungkin wanita dari toko?”

“Tidak mungkin…kita tidak bisa secara tiba tiba melakukan hal itu. Pernikahannya besok.”

“Kalau begitu, ini artinya kau juga belum memikirkan puisi untuk pengantinmu. Kau juga harus melakukannya”

Itu adalah sebuah tradisi adat bagi pengantin pria untuk membacakan puisi yang dia tulis sendiri, yang mana berisikan perasaan terhadap orang yang ia cintai ditengah pernikahan.

“Aku tidak berpikir untuk membuatnya…karena itu memalukan….”

“Itu tidak boleh! Kau harus membuatnya bila tidak, kau akan mengecewakan orang orang yang sudah kau undang”

Setelah diperingatkandengan sikap yang sangat mengancam, Silene menciut.

 “Melakukan sebuah pernikahan di tempat ini berarti harus siap untuk memberi sebuah usaha agar kita dapat berbagi kenangan indah sebagai ganti dari diberkati oleh banyak orang. Kita tidak bisa mengabaikan tradisi itu. Semuanya….bersuka rela melakukan banyak hal bukan? Itu untuk saling membantu dan memberi semangat. Kau akan dicaci maki bila kau tidak dengan sungguh-sungguh menanggapiketulusan itu.

“T-Tapi…”

Siapa yang mungkin bisa dimintai sebuah bantuan?

Mungkin ada seseorang disini yang bisa melakukan hal itu, seketika tamu mereka membuka jendela dan mengeluarkan kepalanya, bertanya tanya apa yang sedang terjadi.Dia juga memegang sebuah surat di tangannya.

“Ah, bukankah ada satu orang yang cocok untuk ini?”

“Tapi dia itu tamu….”

“Dia Boneka Kenangan Otomatis bukan? Bukankah membaca dan menulis itu keahlian mereka?. Tuan, kau bisa menyerahkannya kepadanya”

Meski perkataan Delit sangat optimistis, Karena Silene merasa tidak enak ia tak bisa mengatakan apapun.

“Baiklah”

“Eh?”

“Saya menerimanya. Saya akan membacakan dan menulisnya ... dalam satu malam.”

Secara tak terduga,Violet menanggapi tanggung jawab tersebut. Bahkan belum satu hari penuh semenjak dia bertemu dengannya, dan juga dia merasa tidak mampu mengatakannya. Silene mengira dia itu wanita sederhana.

“Ini merupakan perayaan penting bukan?”

Perkataan Violet itu membuat Silene merasa berat hati.

The baju pengantin wanita dari Eucalypt Basin diliputi gaun merah dengan bordir emas yang detil. Pada kepala pengantinnya terdapat sebuah mahkota bunga dan make up berwarna merah mawar pada kelopak mata dan bibirnya. Sedangkan untuk pengantin pria terdapat sebuah perisai yang melambangkan perlindungan kepada rumah tangga mereka dan sebuah pedang kecil yang berwarna emas, sebagai simbol kekayaan.

Pengantin pria dan pengantin wanita berjalan dan mendapat berkat dari orang yang ada di jalan pada pagi itu.Dan sebuah perjamuan diadakan di balai desa. Pada panggung pernikahan, yang mana sudah dipersiapkan oleh wanita yang ada di desa di hari sebelumnya, terlihat menakjubkan. Pavilyun telah dihias dengan 7 bersaudara dan mawar merah dan dua bangku yang terbuat dari ranting anggur telah disiapkan. Sebuah meja dan bangku telah dibariskan untuk mengelilingi pavilyun dan para tamu sudah duduk di bangku itu. Mereka menyapa kedatangan dari kedua pasangan dengan bertepuk tangan.

Hanya pada hari seperti itulah, mereka yang biasanya bekerja dengan tekun, juga berdandan untuk menghadiri acara ini. Topi ornamental yang indah, pakaian berwarna terang. Dan bukan hanya orang dewasa yang berdandan seperti itu. Anak anak yang berlarian dan berjalan kesana kemari dengan ornament sayap malaikat pada punggung mereka terlihat menggemaskan.

Saat pernikahan itu dimulai, sebuah orkestra mulai bermain dan makanan pun disajikan. Selanjutnya, adalah waktu untuk berdansa sebentar. Mula-mula,  wanita yang mendapat pelajaran berdansa tampil dalam kelompok koreografi. Orang secara berangsur ikut berdansa, namun saat tukang pos berambut pirang itu bergabung, sorakan dari para penduduk wanita mulai terdengar. Selagi Benedict berdansa gemilang dengan sepatu botnya yang mirip dengan bot wanita, setelah dia selesai, ia dikelilingi oleh wanita muda dari segala arah dan menyebabkan kegemparan.

Violet Evergarden, yang menawarkan untuk melakukan deklamasi, tidak melakukan hal yang sebaik Benedict. Dia hanya berdiri di tempat dan berdiam diri sambil menunggu aba aba dari Misha. Mungkin karena kecantikannya yang misterius, dia tidak menjadi target rayuan lelaki, tidak ada satu pun orang memiliki keberanian yang cukup untuk mengajaknya berbicara.

Dan saat akhirnya tiba, dia membuat para hadirin terfokus kepadanya dengan telegram kumpulan itu. Bahkan tidak perlu ada kata “harap tenang” untuk mendiamkan mereka yang ribut. Selama ada hal yang harus didengarkan, hadirin langsung berdiam diri tanpa perlu teguran.

Terlepas dari pasangan yang cemas. Pernikahan itu terbebas dari gangguan dari para penduduk yang sudah tertib.Misha dengan pelan pelan berbisik ke telinga Silene, “Nampaknya ini akan berjalan dengan baik bukan?”

Meskipun dia merupakan pengantinnya sendiri, dia terlihat sangat cantik sehingga dia sedikit terkejut saat wajahnya mendekat. “Yah benar…ini semua berkat penduduk yang ada disini”

“Puisimu….sangat indah” Setelah berkata begitu, Misha tertawa sedikit. Mungkin karena tampangnya terlihat lucu di matanya karena ia menjadi sangat kaku karena gugup saat membaca puisi yang dimaksudkan kepadanya.

“Yah, Nona Violet menulis sebagian besar darinya….”

“Ya benar. Aku tidak pernah tau kau dapat melakukan hal itu”

“Jangan bergurau seperti itu…. Aku memang tidak baik dalam hal seperti ini”

“Kita sangat beruntung untuk menemui pengunjung sepertinya. Ibu juga mungkin terlihat menikmati hal tersebut”

“Itu akan sangat bagus bila memang benar” jawab Silene dengan suara pelan.

Dia tanpa henti berdoa agar ibunya setidaknya dapat tenang pada hari itu, meski dia mulai berkeliaran kesana kemari ditengah tengah pernikahan dan mencari cari dirinya. Pada pertengahan acara, sesuai permintaannya, Delit telah membawanya pulang ke rumah. Mengingat bahwa penduduk desa sudah tau keadaannya. Tidak ada keributan di pihak mereka - tapi yang malu adalah Silene.

--Sungguh memalukan.

Dia merasa bahwa hari terpenting dalam hidupnya telah hancur karena ibunya yang sudah hilang akal itu.

--Aku senang bahwa yang kunikahi adalah Misha.

Silene memegang tangan Misha, menyusuri cincin pernikahan yang dia pegang dengan jarinya. Itu adalah bukti nyata bahwa dia tidak lagi sendirian. Cincin itu memberinya sebuah perasaan nyata akan apa yang sedang ia rasakan.

“Dan inilah dia, sebuah pesan dari ibunda pengantin pria, dengan restunya untuk pernikahan anaknya, Sir Silene, yang hadir pada hari yang mengagumkan ini”

Ledakan tepuk tangan terdengar pada perkataan Violet. Silene sendiri kebingungan karena  hal tersebut. Sedangkan Misha berpikir bahwa itu mungkin adalah sebuah bagian dari acara ini dan menerimanya, tapi Silene sama sekali belum diberitau oleh apapun.

“Lady Fran, saya berterima kasih karena sudah mengijinkan kami untuk duduk di acara yang sangat terhormat ini bersama denganmu” Violet pun mengambil sebuah surat yang terlihat mirip dengan yang ia pegang pada malam kemarin dan membukanya. “Berdasarkan permintaan ibumu, Aku akan menyampaikan kepada Sir Silene isi dari surat yang dipenuhi dengan perasaan yang ditujukan memberkahi pernikahan ini.”

--Aku tidak mendengar apapun soal ini….

Apakah lebih baik untuk menghentikannya? Tidak mungkin perkataan dari orang yang sudah hilang akal itu berisi kata kata yang penuh kesopanan.Tempat ini mungkin kacau oleh pidatonya yang aneh. Silene mulai berdiri dari bangkunya.

Namun, mata dari Boneka Otomatis itu terlihat menjahit bayangannya sendiri dan memohon untuk menahan diri untuk saat itu, “Mungkin ini sedikit abstrak, tapi tolong dengarkan isi surat ini” sebuah suara kesahan dari bibir Violet yang berwarna merah mawar itu. Dia pun membacakan puisi penuh berkah itu. ”Aku tau bahwa versi tercantik dari diriku adalah yang tertampang dalam kedua matamu. Itu karena aku menyayangimu  seperti memuji bunga. Aku bisa melihat kilau bintang dalam pupil matamu. Karena itulah aku pikir bahwa dirimu mempesona. Kau tidak tau cara berbicara saat kau masih kecil. Aku mengajarkanmu beberapa kata agar kau bisa berbicara bukan? Warna dari langit, dinginnya malam yang berembun, hal yang harus kau katakan saat melakukan hal buruk….bila saja aku bisa menyampaikan kesenangan yang aku rasakan saat berbicara kepadamu tentang itu. Aku penasaran apakah kau sudah sadar bahwa semua perkataan kasar yang kukeluarkan kepadamu juga merupakan bentuk dari kasih sayangku. Tak peduli betapa parahnya kau menyakitiku, kenyataan bahwa aku telah melahirkanmu menghapuskan semua hal itu. Kau mungkin tak tau tentang hal itu bukan? Anakku. Apakah kau tau kecantikan dari mata orang yang akan mendampingimu mulai dari sekarang ini? Bisakah kau mengingat warnanya meski matamu tertutup? Apakah mereka bersinar? BIla kau dapat melihat kecantikan matanya itu maka itu merupakan tanda bahwa kau dicintai olehnya. Kau tak boleh melalaikannya. Kau tidak boleh melalaikan cinta. Jangan pernah lakukan hal itu. Anakku. Apakah kau pernah mengintip kedalam mataku? Bila tidak, maka cobalah. Kedua mataku ini mungkin telah terbungkus didalam dunia malam, namun bintang bersinar di langit malam. Jadi, intiplah mataku dengan pelan pelan. Bila mataku terlihat indah maka itu artinya kau mencintaiku. Aku tidak bisa berkata banyak. Jadi, intiplah. Lakukan hal itu setiap kali kau merasa lelah. Kemanapun kau pergi, mataku pasti akan mampu untuk menjadi salah satu hal yang indah didunia ini bagimu. Ini adalah kebenaran tentang janji antara dirimu dan aku. Nak, inilah kasih sayangku kepadamu. Jadi tolong, jangan lupakan warna mataku”

Tepuk tangan mulai terdengar setelah suara hening dan perlahan berubah menjadi sebuah pusaran keramaian.  Setelah membungkuk indah. Violet pun melangkah dari panggung.

Silene tak dapat mengingat warna mata ibunya. Meski dia telah bersamanya sejak hari ini dan hari sebelumnya

“Silene kau baik baik saja?”

Namun, dia tak mampu mengingatnya. Dia telah menghindari untuk melihat wajah ibunya. Dan dia melakukannya secara sengaja.

“Silene”

Dipanggil dengan nama orang lain setiap kali ditatap olehnya terasa sangat berat baginya. Hal ini sangat menyakitkan baginya saat tau bahwa dia tidak punya apa yang dicari cari ibunya.Tak peduli berapa kalipun ia melakukannya,dia tidak dapat memenuhi ekspektasi ibunya.

“Hey,Silene”

Jika ayahnya membawa Silene dan bukan kakaknya, mungkin hati ibunya tidak harus terluka begitu banyak.

“Sayang….”

Jika dia tidak bersama anak yang akan membuat ayah dan ibunya menganggapnya tidak penting, tapi yang lebih baik …

--Sungguh memalukan.

Itulah alasannya ia tidak bagus dalam hal memalukan…..

--Sungguh memalukan.

….karena merekalah ia mulai sadari….

--Sungguh memalukan.

….bahwa dia merupakan keberadaan yang memalukan bagi orang lain.

“Sayang, jangan menangis.”

Selagi Misha mengelap tangisannya, dia sadar bahwa dirinya sedang menangis. Dia pun langsung menghadap kebelakang. Dan meneteskan air mata.

--Sungguh memalukan.Sungguh memalukan. Aku….sangat memalukan.

Surat yang dibacakan oleh Boneka Kenangan Otomatis itu membuat dadanya sesak. Dia sangat malu setelah mengingat masa lalu yang tak mampu dia terima sampai sekarang dan berlari dari orang yang seharusnya dia lindungi. Ibunya, meski dia berpikir bahwa dia telah hilang dan meskipun ia rusak , telah pergi mencari dirinya.

“Maaf, aku akan pergi sebentar” Ia memberitau Misha dan pergi dari tempat pernikahan itu.

“Apakah kau akan ke tempat Ibu?”

Saat dia membuka kelopak matanya dan mengangguk pada pertanyaan itu, dia mendorongnya.

“Pergilah.”

Sambil berpikir bahwa dia adalah pengantin pria terburuk yang meninggalkan pernikahannya sendiri, dia pergi melewati para tamu. Meski dia pergi, para hadirin kembali senang saat waktu menaridimulai sekali lagi.

Dia pergi melalui jalanan yang sempit dan menuju rumah yang ia tinggali bersama ibunya. Silene menggerakkan kakinya menuju rumah yang ia telah tinggalkan. Dan saat ia sampai didepan rumah itu,Violet yang seharusnya berada di balai desa, ada disana. Dia tak dapat melihat motor Benedict dimanapun. Perbaikannya mungkin telah selesai.

“Kami harus pergi.”

Nampaknya mereka telah berencana untuk pergi dari tempat itu tanpa melihat akhirnya.

“Aku juga. Hmm…terima kasih. Aku menyadari kesalahanku….dengan kata kata yang aku dapatkan. Ibu memberitau dirimu hal tak masuk akal…dan kau menuliskannya kedalam sebuah surat yang bagus bukan? Dia membuatmu melakukan sesuatu yang sangat menyusahkan….yah dia sering membuat permintaan yang egois. Selalu saja seperti itu bahkan ketika kami masih hidup bersama. Bahkan sekarang, saat dia diberitau bahwa ini adalah hari pernikahan, dia masih memakai topi putih yang kami berikan padanya bertahun tahun lalu…”

“Aku minta maaf karena melakukan ini seenaknya”

“Tidak, tidak apa…”

“Selagi kalian berdua pergi, aku mendapatkan sebuah tawaran pekerjaan dari ibumu. Tawaran itu hanyalah untuk mengantarkan pesan ini, tapi aku malah melakukan sesuatu yang menganggu. Ibumu berkata bahwa kau mungkin tidak akan membacanya bahkan jika sudah memberinya padamu, Tuan Silene….aku juga, memilih sebuah metode yang mungkin menyampaikan isi perkataannya kepadamu. Karena tidak ada surat yang tidak perlu dikirim.”

Alisnya berkerut. Dia dapat membayangkan bahwa ibunya meminta untuk melakukan sesuatu. Tapi, dia pikir agak terlalu aneh baginya untuk berkata bahwa dirinya mungkin takkan membacanya.

“Aku penasaran kenapa dia berkata…bahwa aku mungkin takkan membacanya”

“Dia berkata bahwa dia selalu memberimu masalah kepadamu. Karena dia kehilangan anggota keluarganya, akhirnya membebanimu dan membuatmu kesepian.”

--Itu bohong.

“Tunggu, itu aneh”

“Apanya?”

--Itu bohong, itu bohong

“Dia tidak seharusnya mengatakan hal seperti itu….Dia selalu berkata seperti ‘aku mau melakukan ini’ atau ‘aku mau melakukan itu’. Tapi….itu aneh…Hampir seperti…..”

--Tidak mungkin.

“Itu tidak aneh. Selagi aku berbicara dengannya, ibumu jelas seperti itu. Saat kami pertama kali bertemu, dia juga seperti itu. DIa berbicara tentang dirimu”

--Tidak mungkin.

SIlene sempoyongan berjalan melewati Violet dan membuka pintu rumah. Dari belakangnya Violet berkata “Yah,aku rasa ini waktunya kami pergi.”

Tanpa mengganggu ataupun berbalik untuk melihat Violet, dia langsung berjalan ke tangga dan menuju ke ruangan yang berada di lantai dua. Apa yang mungkin sedang dilakukan ibunya dalam ruangan yang hanya bisa dikunci dari luar? Membuka kunci pintu itu ia membuka kenopnya. Jendela ruangan itu mungkin terbuka. Angin terasa berhembus kedalam tempat itu.

Ibunya berada di dekat jendela, dia sedang mengamati pusat dari desa untuk melihat tempat dimana pernikahan sedang berlangsung.

“Ibu” Dia memanggil “Ibu” Dia memanggilnya berkali kali.

Ibunya menghadapkan kepalanya kepadanya, namun tatapannya langsung kembali kepada jendela itu.

“Diamlah…Jonah”

Dia secara langka menghadap belakang untuk melihatnya.

“Ibu…Ibu…Ibu”

Semenjak keluarganya hancur, tidak pernah ada satupun kesempatan di mana dia menatapnya dengan serius.

“Aku sedang melakukan hal yang penting sekarang”

Tidak sekalipun.

“Aku penasaran dimana Silene”

“Ibu aku….disini” jawabnya dengan suara yang kekanak kanakan.

Dan selagi ia mengatakannya, Ibunya melihat kebelakang dan terkejut, perlahan berbalik badan.Dia melihat Silene dari kepala sampai ke kaki dengan semu. Tatapannya tidak sama dengan biasanya. Silene melihat kepada mata ibunya.Mata ibunya itu berwarna amber.

--Ah, itu benar.Itulah warnanya.
Dia ingat bahwa warna mata ibunya sama dengan warna matanya.

Ibunya berjalan ke sisinya, dan dengan tangan berbintik coklat, dia menyentuh pipinya. Silene pun meneteskan air mata pada saat itu.

“Jangan menangis…” Ibunya terlihat senang. “Kau sudah besar ya Silene”

Hanya Silene yang tinggal diantara mata ambernya.

“Selamat ….atas pernikahanmu” Ibunya tersenyum.

Pada saat itu, ibunya yang tak diragukan lagi kembali mendapat kewarasannya. Dan hal itu hilang ketika Silene memeluknya.

“Hey, dimana Silene?”

“Aku…takkan kemana mana lagi.”

Akan tetapi, kasih sayangnya itu nyata.